SAMPAI AKHIR, JANGAN BERHENTI BERHARAP.


Terhitung sejak 1 Juni 2020 Indonesia membuka lembaran baru. Setelah ribuan nyawa melayang, ribuan pasien terkapar yang membuat tim medis tunggang langgang tak karuan, akhirnya kita harus memberanikan diri untuk terus melangkah melanjutkan kehidupan.
“New Normal”, begitulah mereka menyebutkan. Revolusi untuk tetap melanjutkan hidup, meskipun bahaya masih mengintai. Sudah sewajarnya waktu menjadi acuan untuk beradaptasi. Tak mudah melupakan kisah pelik yang selama ini terjadi. Korban tewas tiba-tiba, sanak saudara dan tetangga yang tiba-tiba harus dikarantina, atau bahkan runtuhnya ekonomi yang menyebabkan ribuan orang di-PHK. Namun sudah kodratnya manusia untuk tetap berusaha. “New Normal” mengharuskan kita untuk tetap melanjutkan hidup, beraktivitas tanpa gangguan corona, namun juga mengedepankan protokol-protokol kesehatan.
Masih membekas diingatan ketika media heboh memberitakan kejadian kejadian yang berkaitan dengan “DIA”. Corona Virus Disease – 19 atau Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh novel coronavirus. Penyakit ini pertama kali di temukan di Wuhan,China. Menularnya penyakit ini dengan sangat cepat menyebabkan pemerintah terpaksa menerapkan “lockdown” dan “PSBB” guna mencegah penularannya. Perharinya ratusan orang terinfeksi Indonesia, sudah begitu banyak korban jiwa. Protokol-protokol kesehatan, menjaga jarak aman, dan lockdown atau tetap dirumah aja menjadi panutan untuk sementara.
Namun, bak pisau bermata 2, atau coin dengan 2 sisinya, lockdown pun menjadi dilema karena efek yang ditimbulkannya. Penularan corona yang begitu menyeramkan memaksa kita untuk tetap dirumah sampai kondusi Kembali aman. Namun terhentinya semua aktivitas menyebabkan runtuhnya perekonomian, jutaan orang diphk, bankrupt dan lain sebagainya.
Aku pun salah satu yang terkena dampaknya. Meskipun keluarga kami berada di zona hijau, tetap saja kapanpun dan dimanapun kita tidak dapat mengetahui siapa saja yang berpotensi menularkan covid-19. Situasinya kacau. Perasaan resah dan gelisah menghantui. Namun dibalik semua rasa itu masih ada satu perasaan yang amat menyiksaku, BOSAN. Terciptalah sebuah pepatah ditangan seorang ahli jenaka “sangking bosannya, mau bosan aja bosan”. Walaupun agak membingungkan namun itulah kenyataan yang dialami Sebagian besar manusia diseluruh dunia.
Aku tak bisa kemana-mana. Sekolah ditutup dan pembelajaran dilaksanakan secara daring. Café, pusat kegiatan olahraga, pasar, bahkan masjid pun ditutup selama corona. Tak bisa kemana mana, dirumah aja berminggu-minggu bahkan kini diperpanjang menjadi berbulan-bulan. Berbulan-bulan tanpa aktivitas, minimnya bertemu orang lain, aku sangat bosan dirumah. Ingin rasanya keluar, berjalan-jalan sejenak, sekedar melepas bosan setelah lama tinggal di rumah. Ya setidaknya masjid di daerahku masih dibuka dan pasar juga masih dibuka sehingga aku masih bisa keluar walau cuma untuk beribadah atau membeli beberapa barang yang dibutuhkan. Meski bisa keluar beberapa saat, aku harus memakai masker, mencuci tangan setelah pulang, menjaga jarak aman, dan menghindari bersentuhan dengan orang lain.
Sangking bosannya mau bosan aja bosan. Bingung mau ngapain lagi di rumah, membaca udah, belajar udah, cari hobi baru udah, tapi tetep aja bosan kalau gak bisa kemana-mana.  Lama kelamaan, kangen juga sama temen-temen. Kangen kumpul bareng, ketawa bareng, yah tapi semua itu harus terhenti sekarang. Memang benar rasa jenuh itu sangat menyiksa, namun semua itu hanya sementara. Kelak Ketika covid-19 sudah hilang, semuanya bisa kembali bersama. Sampai akhir, jangan berhenti berharap. Percayalah pada kehendak-NYA. Semoga sebentar lagi pandemi ini akan berakhir.

Komentar

Postingan Populer